Ketikaperusahaan mulai melakukan akuisisi dan mengembangkan berbagai produk baru dalam industri dan pasar yang berbeda, biasanya mengubah strukturnya menjadi struktur organisasi yang terdiri dari beberapa divisi. Tiap-tiap divisi dapat beroperasi sendiri-sendiri dibawah pengarahan seorang manajer divisi yang bertanggungjawab langsung kepada CEO.
Sejalandengan pernyataan tersebut, Ardian Prasetya, Presiden Direktur FIFGroup menyampaikan bahwa dari keseluruhan pembiayaan lini bisnis Spektra yang terdiri dari elektronik, gadget, dan perabotan rumah tangga, produk gadget menjadi kontributor terbesar pada penyaluran pembiayaan Spektra. “Sebanyak 58% merupakan pembiayaan produk gadget, 28
CEOperlu memiliki rasa tanggung jawab pada perusahaan yang dikelolanya. Selain itu, CEO biasanya memiliki pandangan visioner untuk terus mempertimbangkan masa depan
MenurutAngky Camaro, CEO Bisnis Lokal PT H.M Sampoerna Tbk menyatakan bahwa yang sebenarnya dibeli oleh Philip Morris adalah kultur yang termasuk bagian dari
DiferensiasiFokus utama strategi ini adalah melakukan diferensiasi penawaran produk yang dihasilkan oleh unit bisnis, sehingga menciptakan sesuatu yang dipandang oleh pelanggan sebagai sesuatu yang unik Pendekatan pada diferensiasi produk mehputi loyalitas merek (Coca-Cola dan Pepsi Cola dalam, minuman ringan), pelayanan pelanggan yang unggul
dKfOkz. Ingin memulai karier di industri FMCG fast-moving consumer goods atau mungkin retail? Jika iya, product line atau lini produk adalah salah satu hal yang harus kamu mulai pahami. Baik sebagai merchandiser, manajer, atau bahkan data analyst, wajib hukumnya untuk mengetahui produk yang dijual. Pasalnya, product knowledge merupakan salah satu hal yang bisa membantu para sales meningkatkan penjualan secara keseluruhan. Ingin tahu lebih lanjut tentang lini produk? Simak artikel ini sampai habis, ya! Apa Itu Product Line? © Merujuk pada Investopedia, pada dasarnya, product line adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan serangkaian produk serupa yang dinaungi oleh satu brand di perusahaan yang sama. Salah satu brand dengan lini produk yang cukup standar adalah Starbucks, misalnya. Mereka memiliki beberapa product line untuk kopi, teh, dan kudapan. Intinya, product line ini bisa dibilang sama saja seperti pengkategorian warna. Terdapat warna primer merah, kuning, hijau. Di bawahnya, ada banyak warna yang masuk ke kategori turunan’ merah, kuning, hijau, atau bahkan kombinasi ketiganya. Sampai sini sudah paham, kan? Menurut Corporate Finance Institute, produk yang berada dalam product line merupakan produk-produk yang memiliki relasi baik itu dari fungsionalitas, target pasar, atau mungkin juga kisaran harga. Meskipun ada relasi tersebut, bukan berarti produk yang berada di bawah satu product line harus selalu menjadi komplementer terhadap satu sama lain. Mereka bisa saja berdiri sendiri-sendiri, tanpa harus dilengkapi oleh produk lainnya di dalam product line yang sama. Kedalaman Lini Produk © Ketika bicara tentang lini produk, satu hal yang tak boleh dilupakan adalah kedalamannya. Kedalaman yang dimaksud di sini adalah jumlah produk yang ditawarkan di bawah sebuah product line. Pada dasarnya, tidak ada perhitungan khusus untuk mendapatkan product line yang ideal. Sebanyak atau sesedikit apa pun produk yang ada di bawah sebuah lini produk, kesuksesannya tidak hanya tergantung pada jumlah produknya. Memang, lebih banyak produk, pelanggan akan memiliki lebih banyak opsi. Akan tetapi, kalau terlalu banyak, pelanggan juga akan lebih sulit untuk memilihnya. Supaya kamu lebih paham, Glints punya contohnya di bawah ini 1. Product line low depth Jenis lini produk yang pertama adalah kedalaman rendah, dengan jumlah barang yang tidak terlalu banyak. Mungkin, hanya berisikan dua atau tiga produk saja. Katakanlah mereka menjual jus buah-buahan, tetapi hanya dua rasa, yaitu mangga dan nanas. Orang yang menyukai jus sirsak akhirnya tidak menjadi pelanggan brand tersebut, karena pilihannya terlalu terbatas dan tidak mencakup rasa yang ia suka. Alhasil, penjualan menurun karena target pasarnya menjadi terlalu kecil. 2. Product line high depth Brand dengan product line yang cukup dalam biasanya memiliki lima produk atau lebih. Untuk lini produk seperti ini, hal yang wajib dilakukan adalah riset pasar. Masih menggunakan perumpamaan yang sama, yaitu jus, katakanlah terdapat jus mangga, nanas, sirsak, apel, dan kedondong. Memang, orang yang menyukai kedondong jadi bisa memilih dari lini produk tersebut. Hal yang jadi pertanyaan adalah, bagaimana kalau produk tersebut tidak sepopuler yang lainnya? Hasil penjualan tentu saja jadi rendah. Padahal, perusahaan sudah mengalokasikan waktu, tenaga, dan uang yang cukup banyak untuk riset produk. Itu dia penjelasan lengkap seputar apa itu product line beserta beberapa contohnya. Dapat disimpulkan bahwa lini produk adalah istilah yang sesuai dengan judul artikel ini, yaitu payung besar yang menaungi serangkaian produk serupa. Kalau ingin menambah produk di dalam rangkaian product line, ingat untuk melakukan riset mendalam terlebih dahulu, ya. Jangan sampai usaha satu tim jadi sia-sia, hanya karena sebuah produk kurang populer atau justru sebenarnya populer tapi tidak dimasukkan ke dalam rangkaian produkmu. Ingin belajar lebih dalam lagi seputar dunia sales dan rincian di dalamnya? Kamu bisa coba mengikuti Glints ExpertClass, lho. Glints ExpertClass adalah kelas yang akan dibawakan oleh para profesional di bidang sales, dengan pengalaman yang tak perlu diragukan. Jadi, tunggu apa lagi? Cari kelas sales yang ingin diikuti, jangan sampai kelewatan kesempatan emas ini! Product Line Product Line
keuntungan lini produksi bagi ceo adalah